Saya bulan lalu melaporkan tentang banyaknya mobil besar yang melintas diatas jembatan gantung kali boyong agar palang besinya dipersempit sehingga mobil tidak bisa lewat. Bukannya mempersempit palang besinya atau membuat rambu agar terlihat jelas, kok malah pemda taruh pos retribusi setelah palang besi. Ini gimana ya? Itu kan jalan desa yang mayoritas dipakai warga sekitaran untuk akses kemana mana. Seperti saya yang tinggal di turi utara selalu lewat sana untuk mangkas jalan ke cangkringan. Sekarang setiap lewat malah ditarik restribusi. Kan orang orang ini bukan mau wisata ke kaliurang pak/bu, cuma lewat saja. Masa' saya yang sering lewat sana dan juga langganan beli slondok dekat situ harus bayar retribusi setiap kali lewat? Yang biasanya menghindari retribusi lewat sana itu malah mobil. Jembatan kali boyong kan jelas tidak diperbolehkan dilintasi mobil. Mohon dievaluasi lagi. Kami yang warga daerah sana jadi risih tiap saat lewat dicegat untuk diminta bayar retribusi. Ini sama juga dari jalan kaliurang masuk ke jalan banteng yang kawasan museum gunung merapi. Lewat sana pun dimintain retribusi. Retribusi itu seharusnya jadikan satu saja dengan museumnya. Ini masa' lewat jalan kampung dicegat untuk bayar padahal tujuannya tidak ke museum. Sudah sering sekali akhirnya kami ribut karena banyak yang tidak mau bayar juga. Tolong kebijakannya. Terima kasih.
A***** (Kamis Pahing 15 Januari 2026 02:53:36)
Terimakasih atas masukkannya, selanjutnya akan kami koordinasikan dengan petugas retribusi dan aparat kalurahan setempat. Maturnuwun.